Beranda Kabar Kampus Mahasiswa Stispol Wira Bhakti “Ngayah” di Pura Sakenan

Mahasiswa Stispol Wira Bhakti “Ngayah” di Pura Sakenan

11
0

Denpasar – Dalam ajaran Agama Hindu, umat manusia mengupayakan hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan alam lingkungan. Karena manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan akan selalu berdampingan. Ajaran itu dikenal dengan istilah Tri Hita Karana. Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya penyebab dan Karana yang artinya kebahagiaan. Jadi Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan. Pertama, bagaimana hubungan antar manusia dengan Sang Hyang Widhi, hubungan yang dipupuk dan ditingkatkan terus ke arah yang lebih tinggi, lebih Suci lahir batin sesuai dengan swadharmaning umat yang religius yakni, untuk dapat mencapai Moksartham Jagadhita Ya ca Iti Dharma, yakni kebahagiaan hidup dunia hanya sekali yang dilandasi oleh Dharma atau kebenaran. Kedua pawongan. Pawongan berasal dari kata Wong dari bahasa Jawa Kawi yang artinya orang. Pawongan adalah perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat. Yang dalam arti sempit, pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat dan tinggal dalam satu wilayah.

 

Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri mereka memerlukan bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Karena itu perlu adanya hubungan sesama manusia yang harus selalu baik dan harmonis dengan dasar saling asah, saling asih, dan saling asuh, yang artinya saling menghargai, saling membimbing, dan saling mengasihi. Untuk mencapai kedamaian lahir batin, keamanan dan kedamaian yang akan menciptakan Negara yang tentram, serta sejahtera. Dan yang ketiga yaitu palemahan. Palemahan berasal dari kata lemah dalam bahasa Jawa yang artinya tanah. Pelemahan berarti bhuana atau alam. Dalam artian sempit pelemahan berarti wilayah suatu pemukiman atau tempat tinggal, di mana manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Dengan demikian manusia juga tergantung kepada lingkungannya dan harus selalu memperhatikan situasi serta kondisi lingkungannya.

 

Lingkungan harus dijaga dan dipelihara dan tidak boleh dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi tidak boleh dikotori. Karena hal itu dapat mengganggu keseimbangan alam lingkungan yang bersih dan rapi akan menciptakan keindahan, dan keindahan dapat menimbulkan rasa tenang dan tentram dalam diri manusia.

Untuk mewujudkan keseimbangan tersebut dan mengamalkan ajaran suci Tri Hita Karana, mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Wira Bhakti “ngaturang ayah” di Pura Susunan Wadon serangkaian hari raya Suci Kuningan. Di mana pada Hari Raya Kuningan bertepatan pula dengan upacara pujawali di Pura Sakenan. Hal ini diharapkan akan memberikan pemikiran kepada mahasiswa-mahasiswi Stispol Wira Bhakti bahwa, kehidupan itu perlu keseimbangan. Tidak hanya memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, tapi manusia harus berupaya untuk menyeimbangkan pemikiran dengan bhakti dan taqwa pada Tuhan Yang Maha Esa serta menjaga lingkungan dengan bersih-bersih atau mereresik di lingkungan Pura Susunan Wadon Sakenan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua III Stispol Wira Bhakti, Anak Agung Putu Sugiantiningsih. Upacara Pujawali dilaksanakan dari Jumat (13/1) sampai Minggu (15/1) yang dilanjutkan dengan nyineb. *

 

Artikel sebelumyaAkhirnya, Kita harus Impor Beras
Artikel berikutnyaPidato Megawati Dinilai “Merendahkan” Jokowi